Kamis, 01 Maret 2012

RRP


SMA NEGERI 1 PONOROGO 
Jalan Budi Utomo No. 1 Telp/ Fax (0352) 481145 Ponorogo
              Terakreditasi dengan kualifikasi A ( kep. BAS Prop. Jatim. No 045/BAP-SM/TU/X/2009)              
  e-mail: ganesha@smazapo.sch.id; website : www.smazapo.sch.id
 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP )
SMA                                :       SMA N  I Ponorogo
Mata Pelajaran              :       Pendidikan Agama Islam
Kelas / Semester           :       X  / 1
Standar Kompetensi            :            1.  Memahami ayat-ayat Al-Qur’an tentang manusia dan  tugasnya sebagai khalifah di bumi
Kompetensi Dasar        :       1.1   Membaca QS Al – Baqarah ayat 30 dan Al-Mukminun: 12-14
Alokasi Waktu               :       2 x 40    menit (1 x pertemuan)
===================================================================================
Tujuan Pembelajaran   :      1.  Siswa dapat membaca QS Al-Baqarah ayat 30, Al-Mukminun ayat 12-14, Adz-Dzariyat ayat 56, dan An-Nahl ayat 78 dengan  shifat,      harakat, tajwid  dan makhraj yang benar
2.   Siswa dapat membaca QS Al-Baqarah ayat 30, Al-Mukminun ayat 12-14, Adz-Dzariyat ayat 56, dan An-Nahl ayat 78   dengan   menerapkan hukum bacaan (tajwid) yang benar
3.   Siswa dapat memahami isi kandungan QS Al-Baqarah ayat 30, Al-Mukminun ayat 12-14, Adz-Dzariyat ayat 56, dan An-Nahl ayat 78.

Karakter siswa yang diharapkan  : 
Dapat dipercaya ( Trustworthines) , Rasa hormat dan perhatian ( respect ) , Tekun ( diligence ) , Tanggung jawab ( responsibility ), Berani ( courage ), Ketulusan (Honesty ),  Integritas ( integrity ) , Peduli ( caring ) dan Jujur ( fairnes ).

Materi Pembelajaran            :        QS  Al-baqarah ayat 30 dan Al-Mukminun ayat 12 – 14
Metode Pembelajaran   :      
1.   Siswa berlatih membaca QS Al-Baqarah ayat 30, Al-Mukminun ayat 12-14, Adz-Dzariyat ayat 56, dan An-Nahl ayat 78  dengan  harakat dan makhraj yang benar
2.    Siswa mengadakan tanya jawab dengan teman-temannya  
membahas  hukum bacaan yang ada pada QS Al-Baqarah ayat 30, Al-Mukminun ayat 12-14, Adz-Dzariyat ayat 56, dan An-Nahl ayat 78
3.    Siswa berlatih membaca QS Al-Baqarah ayat 30, Al-Mukminun ayat 12-14, Adz-Dzariyat ayat 56, dan An-Nahl ayat 78 dengan  menerapkan hukum bacaan yang benar
4.   Siswa berlatih memahami isi kandungan yang terdapat dalam QS Al-Baqarah ayat 30, Al-Mukminun ayat 12-14, Adz-Dzariyat ayat 56, dan An-Nahl ayat 78  





Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran:
Pertemuan Pertama
WAKTU
LANGKAH KEGIATAN
METODE
BAHAN
10’
Kegiatan Awal



Apersepsi  dan Motivasi :
§  Tadarus bersama surat-surat yang telah dihafal siswa
§  Memperkenalkan pengantar tentang asbabun nuzul dari bahan ajar yang akan disampaikan


Demonstrasi


Ceramah dan tanya jawab

Al-Qur’an dan slide ayat Al-Qur’an

50’
Kegiatan Inti



& Eksplorasi
Dalam kegiatan eksplorasi, guru:
§  Beberapa siswa membaca Surah Al-Baqarah ayat 30, Al-Mukminun ayat 12–14, Adz-Dzariyat: 56, dan surah An-Nahl: 78  serta  siswa yang lain         mendengarkan.
§  Siswa membaca Surah Al-Baqarah ayat 30, Al-Mukminun ayat 12–14, Adz-Dzariyat: 56, dan surah An-Nahl: 78 secara klasikal, kelompok dan individu sesuai dengan shifat, harakat dan makhraj yang benar
& Elaborasi
Dalam kegiatan elaborasi, guru:
§  Siswa diperkenalkan hukum bacaan yang ada pada Surah Al-Baqarah ayat 30, Al-Mukminun ayat 12–14, Adz-Dzariyat: 56, dan surah An-Nahl: 78.  
§  Siswa membaca Surah Al-Baqarah ayat 30, Al-Mukminun ayat 12–14, Adz-Dzariyat: 56, dan surah An-Nahl: 78 dengan menerapkan hukum bacaan yang ada pada Surah Al-Baqarah ayat 30, Al-Mukminun ayat 12–14, Adz-Dzariyat: 56, dan surah An-Nahl: 78
.
& Konfirmasi
 Dalam kegiatan konfirmasi, guru:
§  Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswa
§  Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan  dan penyimpulan




Presentasi dan tanya jawab



Presentasi , demonstrasi, dan tanya jawab





Presentasi , demonstrasi, dan tanya jawab

Presentasi , demonstrasi, dan tanya jawab








Presentasi dan tanya jawab



 Power point dan lembar materi


Lembar materi  power point






Lembar materi dan power point


Lembar materi dan power point







Lembar materi
15’
Kegiatan Penutup



Dalam kegiatan penutup, guru:
§  Guru mengadakan tanya jawab dengan  siswa secara berkelompok dan individu tentang hukum bacaan yang ada pada Surah Al-Baqarah ayat 30, Al-Mukminun ayat 12–14, Adz-Dzariyat: 56, dan surah An-Nahl: 78.
§  Siswa diminta menulis Surah Al-Baqarah ayat 30, Al-Mukminun ayat 12–14, Adz-Dzariyat: 56, dan surah An-Nahl: 78  di buku tugas


Presentasi
Tanya jawab

Lembar power point dan lembar materi
5’
Kegiatan  Tindak Lanjut



Para siswa diminta memperdalam materi di rumah serta  dimohon untuk mempelajari pokok bahasan berikutnya
Ceramah dan tanya jawab
Lembar materi

Alat / Sumber Belajar:
1.       Alquran dan Terjemah
2.       Teks lafal Surah Al-Baqarah ayat 30 dan Al-Mukminun ayat 12 – 14 di Laptop, di karton  atau papan tulis
3.       Kaset/CD tentang Alquran 
4.       Buku Pendidikan Agama Islam.
5.       Buku Tajwid atau buku-buku lain yang relevan
6.       Pengalaman guru
7.       Lingkungan sekitar

Penilaian:
Indikator Pencapaian
Teknik Penilaian
Bentuk Instrumen
Instrumen/ Soal
Ø  Membaca Surah Al-Baqarah ayat 30 dan Al-Mukminun ayat 12 – 14 dengan harakat dan makhraj yang benar
Ø  Mengulang-ulang membaca Surah Al-baqarah ayat 30 dan Al-Mukminun ayat 12 – 14 dengan harakat dan makhraj yang benar
Tes lisan
Tes lisan
Pelafalan
Pelafalan

Ø  Lafalkan Surah Al-Baqarah ayat 30 dan Al-Mukminun ayat 12 – 14  sesuai dengan makhraj dan harakat yang benar!
Ø  Lafalkan Surah Al-Baqarah ayat 30 dan Al-Mukminun ayat 12 – 14  dengan  menerapkan hukum bacaan yang ada pada surah tersebut!

1.      Produk ( hasil diskusi )
No.
Aspek
Kriteria
Skor
1.
Konsep
* semua benar
* sebagian besar benar
* sebagian kecil benar
* semua salah
4
3
2
1

2.      Performansi
No.
Aspek
Kriteria
Skor
1.



2.
Kerjasama



Partisipasi
* bekerjasama
* kadang-kadang kerjasama
* tidak bekerjasama

* aktif  berpartisipasi
* kadang-kadang aktif
* tidak aktif
4
2
1

4
2
1









3. Lembar Penilaian
No
Nama Siswa
Performan
Produk
Jumlah Skor
Nilai
Kerjasama
Partisipasi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.











CATATAN :
  Nilai = ( Jumlah skor : jumlah skor maksimal ) X 10.
v  Untuk Siswa yang belum memenuhi syarat nilai sesuai KKM maka diadakan Remedial.



Ponorogo,  Juli  2011

Waka Kurikulum






SUROSO,M.Pd
NIP. 19700208199903 1 007
Koordinator Mata Pelajaran PAI






Drs. H. THOHA  TAROM
NIP. 19520414 198503 1 010.
Guru Mata Pelajaran PAI






SUYOTO, MA., M.Pd
NIP. 19700422200501 1 005















Pertemuan Kedua
WAKTU
LANGKAH KEGIATAN
METODE
BAHAN
10’
Kegiatan Awal



Apersepsi  dan Motivasi :
§  Tadarus bersama surat-surat yang telah dihafal siswa
§  Memperkenalkan pengantar tentang asbabun nuzul dari bahan ajar yang akan disampaikan


Demonstrasi


Ceramah dan tanya jawab

Al-Qur’an dan slide ayat Al-Qur’an

50’
Kegiatan Inti



& Eksplorasi
Dalam kegiatan eksplorasi, guru:
§  Beberapa siswa membaca Surah Al-Baqarah ayat 30, Al-Mukminun ayat 12–14, Adz-Dzariyat: 56, dan surah An-Nahl: 78  serta  siswa yang lain         mendengarkan.
§  Siswa membaca Surah Al-Baqarah ayat 30, Al-Mukminun ayat 12–14, Adz-Dzariyat: 56, dan surah An-Nahl: 78 secara klasikal, kelompok dan individu sesuai dengan shifat, harakat dan makhraj yang benar
& Elaborasi
Dalam kegiatan elaborasi, guru:
§  Siswa diperkenalkan hukum bacaan yang ada pada Surah Al-Baqarah ayat 30, Al-Mukminun ayat 12–14, Adz-Dzariyat: 56, dan surah An-Nahl: 78.  
§  Siswa membaca Surah Al-Baqarah ayat 30, Al-Mukminun ayat 12–14, Adz-Dzariyat: 56, dan surah An-Nahl: 78 dengan menerapkan hukum bacaan yang ada pada Surah Al-Baqarah ayat 30, Al-Mukminun ayat 12–14, Adz-Dzariyat: 56, dan surah An-Nahl: 78
.
& Konfirmasi
 Dalam kegiatan konfirmasi, guru:
§  Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswa
§  Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan  dan penyimpulan




Presentasi dan tanya jawab



Presentasi , demonstrasi, dan tanya jawab





Presentasi , demonstrasi, dan tanya jawab

Presentasi , demonstrasi, dan tanya jawab








Presentasi dan tanya jawab



 Power point dan lembar materi


Lembar materi  power point






Lembar materi dan power point


Lembar materi dan power point







Lembar materi
15’
Kegiatan Penutup



Dalam kegiatan penutup, guru:
§  Guru mengadakan tanya jawab dengan  siswa secara berkelompok dan individu tentang hukum bacaan yang ada pada Surah Al-Baqarah ayat 30, Al-Mukminun ayat 12–14, Adz-Dzariyat: 56, dan surah An-Nahl: 78.
§  Siswa diminta menulis Surah Al-Baqarah ayat 30, Al-Mukminun ayat 12–14, Adz-Dzariyat: 56, dan surah An-Nahl: 78  di buku tugas


Presentasi
Tanya jawab

Lembar power point dan lembar materi
5’
Kegiatan  Tindak Lanjut



Para siswa diminta memperdalam materi di rumah serta  dimohon untuk mempelajari pokok bahasan berikutnya
Ceramah dan tanya jawab
Lembar materi



Alat / Sumber Belajar:
1.       Alquran dan Terjemah
2.       Teks lafal Surah Al-Baqarah ayat 30 dan Al-Mukminun ayat 12 – 14 di Laptop, di karton  atau papan tulis
3.       Kaset/CD tentang Alquran 
4.       Buku Pendidikan Agama Islam.
5.       Buku Tajwid atau buku-buku lain yang relevan
6.       Pengalaman guru
7.       Lingkungan sekitar

Penilaian:
Indikator Pencapaian
Teknik Penilaian
Bentuk Instrumen
Instrumen/ Soal
Ø  Membaca Surah Al-Baqarah ayat 30 dan Al-Mukminun ayat 12 – 14 dengan harakat dan makhraj yang benar
Ø  Mengulang-ulang membaca Surah Al-baqarah ayat 30 dan Al-Mukminun ayat 12 – 14 dengan harakat dan makhraj yang benar
Tes lisan
Tes lisan
Pelafalan
Pelafalan

Ø  Lafalkan Surah Al-Baqarah ayat 30 dan Al-Mukminun ayat 12 – 14  sesuai dengan makhraj dan harakat yang benar!
Ø  Lafalkan Surah Al-Baqarah ayat 30 dan Al-Mukminun ayat 12 – 14  dengan  menerapkan hukum bacaan yang ada pada surah tersebut!

1.      Produk ( hasil diskusi )
No.
Aspek
Kriteria
Skor
1.
Konsep
* semua benar
* sebagian besar benar
* sebagian kecil benar
* semua salah
4
3
2
1

2.      Performansi
No.
Aspek
Kriteria
Skor
1.



2.
Kerjasama



Partisipasi
* bekerjasama
* kadang-kadang kerjasama
* tidak bekerjasama

* aktif  berpartisipasi
* kadang-kadang aktif
* tidak aktif
4
2
1

4
2
1









3. Lembar Penilaian
No
Nama Siswa
Performan
Produk
Jumlah Skor
Nilai
Kerjasama
Partisipasi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.











CATATAN :
  Nilai = ( Jumlah skor : jumlah skor maksimal ) X 10.
v  Untuk Siswa yang belum memenuhi syarat nilai sesuai KKM maka diadakan Remedial.



Ponorogo,   9  Juli  2011

Waka Kurikulum






SUROSO,M.Pd
NIP. 19700208199903 1 007
Koordinator Mata Pelajaran PAI






Drs. H. THOHA  TAROM
NIP. 19520414 198503 1 010.
Guru Mata Pelajaran PAI






SUYOTO, MA., M.Pd
NIP. 19700422200501 1 005















LAMPIRAN MATERI :) ãNn=ôãr& $tB Ÿw tbqßJn=÷ès? getahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur








 
SMA NEGERI 1 PONOROGO 
Jalan Budi Utomo No. 1 Telp/ Fax (0352) 481145 Ponorogo
              Terakreditasi dengan kualifikasi A ( kep. BAS Prop. Jatim. No 045/BAP-SM/TU/X/2009)              
  e-mail: ganesha@smazapo.sch.id; website : www.smazapo.sch.id
 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP )
=====================================================================================
SMA                                :       SMA N  I Ponorogo
Mata Pelajaran              :       Pendidikan Agama Islam
Kelas / Semester           :       X  / 1
Standar Kompetensi            :            2.  Memahami ayat-ayat Al-Qur’an tentang keikhlasan dalam ibadah
Kompetensi Dasar        :      2.1  Membaca QS  Al – An’am ayat; 162-163  dan Al-Bayyinah: 5
                                               2.2. Menyebutkan arti  QS  Al-An’am ayat; 162-163 dan Al-   Bayyinah: 5.
                                               2.3. Memahami kandungan dalam  QS  Al – An’am ayat; 162-163  dan Al-Bayyinah: 5
Alokasi Waktu               :      2 x 40    menit (1 x pertemuan)
===================================================================================
Tujuan Pembelajaran   :      1.  Siswa dapat membaca QS Al – An’am ayat; 162-163  dan Al-Bayyinah: 5, dengan  shifat,      harakat  dan makhraj yang benar
2.  Siswa dapat membaca QS Al – An’am ayat; 162-163  dan Al-Bayyinah: 5   dengan   menerapkan hukum bacaan (tajwid) yang benar
3.  Siswa dapat memahami isi kandungan QS Al – An’am ayat; 162-163  dan Al-Bayyinah: 5
Karakter siswa yang diharapkan  : 
Dapat dipercaya ( Trustworthines) , Rasa hormat dan perhatian ( respect ) , Tekun ( diligence ) , Tanggung jawab ( responsibility ), Berani ( courage ), Ketulusan (Honesty ),  Integritas ( integrity ) , Peduli ( caring ) dan Jujur ( fairnes ).

Materi Pembelajaran                :       Ayat-ayat tentang keikhlasan beribadah (QS  Al – An’am ayat; 162-163  dan Al-Bayyinah: 5)
Metode Pembelajaran   :      
1.   Siswa berlatih membaca Surah Al – An’am ayat; 162-163  dan Al-Bayyinah: 5   dengan  harakat dan makhraj yang benar
2.    Siswa mengadakan tanya jawab dengan teman-temannya  
membahas  hukum bacaan yang ada pada Surah Al – An’am ayat; 162-163  dan Al-Bayyinah: 5.
3.   Siswa berlatih membaca Surah Al – An’am ayat; 162-163  dan Al-Bayyinah: 5  dengan  menerapkan hukum bacaan yang benar
4.   Siswa berlatih memahami isi kandungan yang terdapat dalam Al-Qur’an Surah Al – An’am ayat; 162-163  dan Al-Bayyinah: 5.







Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran:
Pertemuan Ketiga
WAKTU
LANGKAH KEGIATAN
METODE
BAHAN
10’
Kegiatan Awal



Apersepsi  dan Motivasi :
§  Tadarus bersama surat-surat yang telah dihafal siswa
§  Memperkenalkan pengantar tentang asbabun nuzul dari bahan ajar yang akan disampaikan


Demonstrasi


Ceramah dan tanya jawab

Al-Qur’an dan slide ayat Al-Qur’an

50’
Kegiatan Inti



& Eksplorasi
Eksplorasi
Dalam kegiatan eksplorasi, guru:
§  Beberapa siswa membaca Surah Al – An’am ayat; 162-163  dan Al-Bayyinah: 5   dan siswa yang lain         mendengarkan
§  Siswa membaca Surah Al – An’am ayat; 162-163  dan Al-Bayyinah: 5   secara klasikal, kelompok dan individu sesuai dengan shifat, harakat dan makhraj yang benar

& Elaborasi
Dalam kegiatan elaborasi, guru:
§  Siswa diperkenalkan hukum bacaan yang ada pada Surah Al – An’am ayat; 162-163  dan Al-Bayyinah: 5.   
§  Siswa membaca Surah Al – An’am ayat; 162-163  dan Al-Bayyinah: 5  dengan menerapkan hukum bacaan yang ada pada Surah Al – An’am ayat; 162-163  dan Al-Bayyinah: 5.

& Konfirmasi
Dalam kegiatan konfirmasi, guru:
§  Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswa
§  Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan  dan penyimpulannyimpulan




Presentasi dan tanya jawab



Presentasi , demonstrasi, dan tanya jawab





Presentasi , demonstrasi, dan tanya jawab

Presentasi , demonstrasi, dan tanya jawab








Presentasi dan tanya jawab



 Power point dan lembar materi


Lembar materi  power point






Lembar materi dan power point


Lembar materi dan power point







Lembar materi
15’
Kegiatan Penutup



Dalam kegiatan penutup, guru:
§  Guru mengadakan tanya jawab dengan  siswa secara berkelompok dan individu tentang hukum bacaan yang ada pada Surah Al – An’am ayat; 162-163  dan Al-Bayyinah: 5.
§  Siswa diminta menulis Surah Al – An’am ayat; 162-163  dan Al-Bayyinah: 5 di buku tugas


Presentasi
Tanya jawab

Lembar power point dan lembar materi
5’
Kegiatan  Tindak Lanjut



Para siswa diminta memperdalam materi di rumah serta  dimohon untuk mempelajari pokok bahasan berikutnya
Ceramah dan tanya jawab
Lembar materi





.

Alat / Sumber Belajar:
1.       Alquran dan Terjemah
2.       Teks lafal Surah Al – An’am ayat; 162-163  dan Al-Bayyinah: 5  di Laptop, di karton  atau papan tulis
3.       Kaset/CD tentang Alquran 
4.       Buku Pendidikan Agama Islam.
5.       Buku Tajwid atau buku-buku lain yang relevan
6.       Pengalaman guru
7.       Lingkungan sekitar

Penilaian:
Indikator Pencapaian
Teknik Penilaian
Bentuk Instrumen
Instrumen/ Soal
Ø  Melafalkan  Surah Al – An’am ayat; 162-163  dan Al-Bayyinah: 5   dengan harakat dan makhraj yang benar
Ø  Mengartikan  Surah Al – An’am ayat; 162-163  dan Al-Bayyinah: 5  dengan harakat dan makhraj yang benar
Ø  Menampilkan perilaku ikhlas dalam beribadah seperti yang terkandung dalam Al-Qur’an Surah Al – An’am ayat; 162-163  dan Al-Bayyinah: 5
Tes lisan
Tes lisan



Tes Perbuatan
Pelafalan
Pelafalan



Pembiasaan
Ø  Lafalkan Surah Al – An’am ayat; 162-163  dan Al-Bayyinah: 5    sesuai dengan makhraj dan harakat yang benar!
Ø  Lafalkan Surah Al – An’am ayat; 162-163  dan Al-Bayyinah: 5    dengan  menerapkan hukum bacaan yang ada pada surah tersebut!
Ø  Lakukan berbuat ikhlas sesuai dengan QS Al – An’am ayat; 162-163  dan Al-Bayyinah: 5  

1.      Produk ( hasil diskusi )
No.
Aspek
Kriteria
Skor
1.
Konsep
* semua benar
* sebagian besar benar
* sebagian kecil benar
* semua salah
4
3
2
1

2.      Performansi
No.
Aspek
Kriteria
Skor
1.



2.
Kerjasama



Partisipasi
* bekerjasama
* kadang-kadang kerjasama
* tidak bekerjasama

* aktif  berpartisipasi
* kadang-kadang aktif
* tidak aktif
4
2
1

4
2
1






3. Lembar Penilaian
No
Nama Siswa
Performan
Produk
Jumlah Skor
Nilai
Kerjasama
Partisipasi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.










CATATAN :
  Nilai = ( Jumlah skor : jumlah skor maksimal ) X 10.
v  Untuk Siswa yang belum memenuhi syarat nilai sesuai KKM maka diadakan Remedial.


Ponorogo,   9  Juli  2011

Waka Kurikulum






SUROSO,M.Pd
NIP. 19700208199903 1 007
Koordinator Mata Pelajaran PAI






H. TOHA  TAROM
     NIP. 19520414 198503 1 010    
Guru Mata Pelajaran PAI






SUYOTO, MA., M.Pd
NIP. 19700422200501 1 005















Pertemuan keempat
WAKTU
LANGKAH KEGIATAN
METODE
BAHAN
10’
Kegiatan Awal



Apersepsi  dan Motivasi :
§  Tadarus bersama surat-surat yang telah dihafal siswa
§  Memperkenalkan pengantar tentang asbabun nuzul dari bahan ajar yang akan disampaikan


Demonstrasi


Ceramah dan tanya jawab

Al-Qur’an dan slide ayat Al-Qur’an

50’
Kegiatan Inti



& Eksplorasi
Eksplorasi
Dalam kegiatan eksplorasi, guru:
§  Beberapa siswa membaca Surah Al – An’am ayat; 162-163  dan Al-Bayyinah: 5   dan siswa yang lain         mendengarkan
§  Siswa membaca Surah Al – An’am ayat; 162-163  dan Al-Bayyinah: 5   secara klasikal, kelompok dan individu sesuai dengan shifat, harakat dan makhraj yang benar

& Elaborasi
Dalam kegiatan elaborasi, guru:
§  Siswa diperkenalkan hukum bacaan yang ada pada Surah Al – An’am ayat; 162-163  dan Al-Bayyinah: 5.   
§  Siswa membaca Surah Al – An’am ayat; 162-163  dan Al-Bayyinah: 5  dengan menerapkan hukum bacaan yang ada pada Surah Al – An’am ayat; 162-163  dan Al-Bayyinah: 5.

& Konfirmasi
Dalam kegiatan konfirmasi, guru:
§  Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswa
§  Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan  dan penyimpulannyimpulan




Presentasi dan tanya jawab



Presentasi , demonstrasi, dan tanya jawab





Presentasi , demonstrasi, dan tanya jawab

Presentasi , demonstrasi, dan tanya jawab








Presentasi dan tanya jawab



 Power point dan lembar materi


Lembar materi  power point






Lembar materi dan power point


Lembar materi dan power point







Lembar materi
15’
Kegiatan Penutup



Dalam kegiatan penutup, guru:
§  Guru mengadakan tanya jawab dengan  siswa secara berkelompok dan individu tentang hukum bacaan yang ada pada Surah Al – An’am ayat; 162-163  dan Al-Bayyinah: 5.
§  Siswa diminta menulis Surah Al – An’am ayat; 162-163  dan Al-Bayyinah: 5 di buku tugas


Presentasi
Tanya jawab

Lembar power point dan lembar materi
5’
Kegiatan  Tindak Lanjut



Para siswa diminta memperdalam materi di rumah serta  dimohon untuk mempelajari pokok bahasan berikutnya
Ceramah dan tanya jawab
Lembar materi





.

Alat / Sumber Belajar:
1.       Alquran dan Terjemah
2.       Teks lafal Surah Al – An’am ayat; 162-163  dan Al-Bayyinah: 5  di Laptop, di karton  atau papan tulis
3.       Kaset/CD tentang Alquran 
4.       Buku Pendidikan Agama Islam.
5.       Buku Tajwid atau buku-buku lain yang relevan
6.       Pengalaman guru
7.       Lingkungan sekitar

Penilaian:
Indikator Pencapaian
Teknik Penilaian
Bentuk Instrumen
Instrumen/ Soal
Ø  Melafalkan  Surah Al – An’am ayat; 162-163  dan Al-Bayyinah: 5   dengan harakat dan makhraj yang benar
Ø  Mengartikan  Surah Al – An’am ayat; 162-163  dan Al-Bayyinah: 5  dengan harakat dan makhraj yang benar
Ø  Menampilkan perilaku ikhlas dalam beribadah seperti yang terkandung dalam Al-Qur’an Surah Al – An’am ayat; 162-163  dan Al-Bayyinah: 5
Tes lisan
Tes lisan



Tes Perbuatan
Pelafalan
Pelafalan



Pembiasaan
Ø  Lafalkan Surah Al – An’am ayat; 162-163  dan Al-Bayyinah: 5    sesuai dengan makhraj dan harakat yang benar!
Ø  Lafalkan Surah Al – An’am ayat; 162-163  dan Al-Bayyinah: 5    dengan  menerapkan hukum bacaan yang ada pada surah tersebut!
Ø  Lakukan berbuat ikhlas sesuai dengan QS Al – An’am ayat; 162-163  dan Al-Bayyinah: 5  

1.      Produk ( hasil diskusi )
No.
Aspek
Kriteria
Skor
1.
Konsep
* semua benar
* sebagian besar benar
* sebagian kecil benar
* semua salah
4
3
2
1

2.      Performansi
No.
Aspek
Kriteria
Skor
1.



2.
Kerjasama



Partisipasi
* bekerjasama
* kadang-kadang kerjasama
* tidak bekerjasama

* aktif  berpartisipasi
* kadang-kadang aktif
* tidak aktif
4
2
1

4
2
1






3. Lembar Penilaian
No
Nama Siswa
Performan
Produk
Jumlah Skor
Nilai
Kerjasama
Partisipasi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.










CATATAN :
  Nilai = ( Jumlah skor : jumlah skor maksimal ) X 10.
v  Untuk Siswa yang belum memenuhi syarat nilai sesuai KKM maka diadakan Remedial.


Ponorogo,   9  Juli  2011

Waka Kurikulum






SUROSO,M.Pd
NIP. 19700208199903 1 007
Koordinator Mata Pelajaran PAI






H. TOHA  TAROM
     NIP. 19520414 198503 1 010    
Guru Mata Pelajaran PAI






SUYOTO, MA., M.Pd
NIP. 19700422200501 1 005






















PERBANDINGAN PENDIDIKAN JEPANG

Jepang merupakan salah satu negara termaju dalam berbagai bidang kehidupan: ekonomi, teknologi, ilmu pengetahuan, sosial, politik, dll. Kemajuan-kemajuan ini tentu berkaitan erat dengan kemajuan pendidikan.
Bagaimana sistem pendidikan di Jepang?
Sistem pendidikan di Jepang dibangun atas prinsip-prinsip:
  • Legalisme
  • Administrasi yang demokratis
  • Netralitas
  • Penyesuaian dan penetapan kondisi pendidikan
  • Desentralisasi.
Pendidikan bertujuan:
  1. Mengembangkan kepribadian secara penuh dengan
  2. Berupaya keras membangun manusia yang sehat pikiran dan badan,
  3. Yang mencintai kebenaran dan keadilan,
  4. Menghormati perseorangan,
  5. Menghargai kerja,
  6. Mempunyai rasa tanggungjawab yang dalam, dan
  7. Memiliki semangat independen sebagai pembangun negara dan masyarakat yang damai.
Sistem administrasi pendidikan dibangun dalam empat tingkat: pusat, prefectural (antara propinsi dan kabupaten), municipal (antara kabupaten dan kecamatan), dan sekolah. Masing-masing tingkat administrasi pendidikan tersebut mempunyai peran dan kewenangan yang saling mengisi dan bersifat kerjasama. Disamping itu, terdapat asosiasi-asosiasi kepala sekolah, guru, murid, dan orang tua yang mendukung pengembangan sekolah.
Contoh tujuan pendidikan untuk tingkat sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) yang dirinci sampai tingkat kelas dapat dilihat dalam Gambar 1.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiZ9NXuq9BJ_jHcVEVzVStTVBCVMlTHxofrlTgq5jRvlz1BxeNB-2NqH1dj-HpMrI-B1_V6NcHYCtc5-TtSS4zWhlZfMaSuE8gizgpnkwi9-JSiVmz-Xby7XM-cdOPBueLMrvJVVmq9hMk/s320/Jepang.jpg

Gambar 1 Tujuan Pendidikan di Kawanigashi Junior Secondary School.
Tujuan pendidikan tersebut adalah untuk membesarkan anak yang sehat pikiran dan badan serta penuh estetika, sehingga dihasilkan murid yang ideal, yaitu murid yang selalu melatih diri sendiri, mengikuti aturan, bersedia bekerja secara sukarela, dan mempunyai dasar untuk berpikir secara internasional.
Selanjutnya, tujuan pendidikan di tingkat sekolah tersebut dijabarkan lagi ke dalam tujuan di masing-masing kelas seperti yang dapat dilihat dalam Gambar 1. (Kawanigashi Junior Secondary School, 2000).
Tujuan pendidikan ini lebih lanjut dijabarkan untuk setiap mata pelajaran dan bahkan untuk setiap pertemuan kelas. Untuk mencapai tujuan tersebut diuraikan materi apa yang akan dibahas, apa yang harus dilakukan murid, dan apa yang harus dilakukan guru, serta bagaimana cara melakukannya yang semuanya dinyatakan dalam rencana kerja (working plan) yang disiapkan guru untuk setiap pertemuan kelas. Dengan demikian, baik murid maupun guru memiliki pedoman arahan yang jelas dalam proses belajar-mengajar.
Pada umumnya metode pengajaran yang digunakan di sekolah-sekolah di Jepang adalah kombinasi dari:
  • Penjelasan dari dan tanya jawab dengan guru,
  • Diskusi antar murid, dan
  • Eksplorasi oleh murid sendiri dengan menggunakan alat pembelajaran.
Di awal biasanya murid memberikan penjelasan sebagai pengantar, kemudian murid melakukan diskusi sesama mereka dan atau mengeksplorasi menggunakan alat pembelajaran seperti multimedia, laboratorium, dll. sesuai dengan mata pelajaran dan kebutuhan. Hasil diskusi dan atau eksplorasi tersebut lalu dipresentasikan di depan kelas dengan bimbingan guru.

            Namun sebetulnya dibalik kesuksesan itu, Jepang sendiri sempat mengalami kekurangpuasan dengan sistem pendidikan yang mereka miliki, khususnya antara tahun 1980an sampai sekitar tahun 1990an. Akibatnya, kementrian pendidikan berupaya melakukan serangkaian reformasi yang berpengaruh pada kebijakan-kebijakan pendidikan yang berkembang saat ini. Meski begitu, kebijakan-kebijakan atas reformasi itu sendiri masih sering menjadi bahan perdebatan di kalangan para stakeholder dan pemerhati pendidikan.

Menurut catatan Christopher Bjork dan Ryoko Tsuneyoshi, berbagai penelitian yang dipublikasi selama periode dua dekade dari abad ke 20 banyak mengetengahkan isu komparatif guna mengetahui kelebihan dan kekurangan sistem pendidikan di Jepang dibanding dengan negara-negara yang lain. Hasilnya secara umum hanya menggarisbawahi aspek-aspek yang unggul dari sistem pendidikan tersebut, misalnya dasar yang kuat yang ditanam pada para siswa untuk bidang studi matematika dan ilmu pasti, komitmen masyarakat yang kuat pada keunggulan akademik, keselarasan hubungan antara pengajar dan peserta didik, serta budaya pengajaran yang sarat perencanaan dan implementasi yang matang.

Seiring dengan melimpahnya kekaguman berbagai bangsa luar, termasuk Indonesia atas sistem yang dikembangkan tersebut berbagai perdebatan seputar hakikat dan tujuan sistem itu beserta dampak-dampak yang ditimbulkannya mewarnai dinamika pendidikan di negara ini.

Perdebatan ini banyak terjadi antara mereka yang tamat dari sekolah-sekolah dalam negeri dan mereka yang tamat dari luar negara. Selain itu, selama bertahun-tahun sistem pendidikan di negeri sakura ini dinilai terlalu kaku dalam mengaplikasikan ujian masuk bagi para calon siswa baru serta semata-mata menekankan kemampuan ingatan terhadap fakta-fakta yang ada.

Fenomena inilah yang kemudian menggugah kementrian pendidikan, budaya, olahraga, ilmu pengetahuan serta teknologi (MEXT) untuk memelopori “Yutori Kyoiku”, suatu reformasi pendidikan guna meredam intensitas tersebut.

Namun demikian, aplikasi pada reformasi ini bukannya membuat perdebatan reda, tetapi justru menyulut berbagai percikan kritikan baru. Di satu pihak, ada yang berupaya mengembalikan sistem pendidikan Jepang pada agenda awal dengan mengembalikan fungsi kurikulum secara penuh. Di lain pihak ada yang bersikukuh mendorong Jepang makin meningkatkan standar akademik, seiring dengan pengembangan program “Super Science” untuk siswa-siswi sekolah lanjutan atas, yang notebene untuk mereka dengan kemampuan di atas rata-rata.

Kecenderungan sosial akademik ini tidak bisa dibendung dan sejumlah sekolah lokal mengembangkan kebijakan orientasi pada pasar (market-oriented policies) seperti misalnya berlomba-lomba untuk menjadi sekolah pilihan.

Berbagai perdebatan yang muncul tersebut seakan-akan mempertanyakan sistem pendidikan yang sedang berkembang di Jepang saat itu, bahkan ada beberapa dari mereka berpendapat bahwa sistem pendidikan Jepang saat itu ada dalam suatu titik genting. Di tengah-tengah tantangan untuk mengurangi beban tekanan akademis bagi para siswa, pengembangan motivasi belajar, kemampuan berpikir kritis ada sejalan dengan upaya untuk membekali para siswa pada kemampuan-kemampuan akademik dasar.

Para pendidik pun disibukkan untuk menggali berbagai pendekatan yang sekiranya tidak hanya bisa menjawab pertanyaan para stakeholder tersebut, namun juga bisa tetap berada pada jalur kurikulum yang telah mereka sepakati.

Penyusunan Kurikulum Sekolah di Jepang (1)

Bagaimanakah kurikulum di sekolah-sekolah Jepang disusun ? Dan apa saja yang diajarkan kepada anak-anak Jepang ? Saya menjawab pertanyaan ini dengan merangkumkan dari salah satu chapter buku yang direkomendasikan Prof Nanbu ketika suatu kali saya ingin mengetahui lebih banyak tentang administrasi pendidikan di Jepang.
Buku yang direkomendasikan Nanbu sensei berjudul Educational System and Administration in Japan, terbitan Kansai Society for Educational Administration pada tahun 1999.  Buku ini barangkali satu-satunya literatur berbahasa Inggris yang disusun oleh pakar pendidikan Jepang yang menceritakan tentang administrasi pendidikan di Jepang.  Penerbitannya dalam edisi yang sangat terbatas, dan hanya ada satu exempla di perpustakaan Fak. Pendidikan Nagoya University.
Seperti halnya di Indonesia, di Jepang pun kurikulum disusun oleh sebuah komite khusus dibawah kontrol Kementerian Pendidikan (MEXT).  Komisi Kurikulum terdiri dari wakil dari Teacher Union, praktisi dan pakar pendidikan, wakil dari kalangan industri, dan wakil MEXT.  Komisi ini bertugas mempelajari tujuan pendidikan Jepang yang terdapat dalam Fundamental Education Law (Kyouiku kihonhou), lalu menyesuaikannya dengan perkembangan yang terjadi baik di dalam maupun luar negeri.  Namun, karena unsur politik sangat kental mewarnai wakil-wakil yang duduk dalam komisi ini maka tak jarang terjadi perdebatan panjang terutama antara wakil teacher union dan wakil kementerian dalam penyusunan draft kurikulum.
Pembaharuan kurikulum di Jepang berlangsung setiap 10 tahun sekali, dan kurikulum terbaru yang diterbitkan di tahun 1998 adalah pembaharuan ketujuh sejak kurikulum yang diterapkan pada Perang Dunia II.
Kurikulum 1998 membawa angin baru dalam dunia pendidikan Jepang.  Kurikulum ini berbeda dengan kurikulum sebelumnya berdasarkan konsep yang dibawanya yaitu pendidikan yang berorientasi kepada pengembangan beragam personality siswa, bukan seperti sebelumnya yaitu common education, atau pendidikan yang sama untuk semua siswa.
Guru-guru di Jepang sejak perang percaya bahwa pendidikan harus bersifat massal dan sama, bahkan pendidikan yang menjurus kepada kekhasan tertentu atau menerapkan pola/metode yang lain daripada yang lain dianggap salah.  Guru-guru Jepang senantiasa menjaga image bahwa semua siswa harus memiliki prestasi yang sama, kedisiplinan yang sama dengan sistem pendidikan yang serupa.  Namun adanya kurikulum baru menyadarkan mereka bahwa setiap anak punya potensi yang berbeda dengan lainnya, dan inilah yang harus dibina.
Kurikulum yang baru bersifat fleksibel dan memungkinkan sekolah untuk meramu kurikulum sendiri berdasarkan kondisi daerah, sekolah dan siswa yang mendaftar. Sebagai contoh, di SMP, selain mata pelajaran wajib, siswa juga ditawarkan dengan mapel pilihan.
Dengan adanya kurikulum baru ini, training besar-besaran dilakukan untuk mengubah pola pikir guru-guru Jepang.  MEXT juga merevisi beberapa buku pelajaran, dan secara hampir bersamaan mengusulkan pemberlakuan 5 hari sekolah dan adanya jam khusus untuk pengembangan jiwa sosial siswa melalui integrated course atau sougoteki jikan.
Kurikulum di level sekolah disusun dengan kontrol penuh dari The Board of Education di Tingkat Prefectur dan municipal (distrik).  Karena kedua lembaga ini masih terkait erat dengan MEXT, maka pengembangan kurikulum Jepang masih sangat kental sifat sentralistiknya.  Namun rekomendasi yang dikeluarkan oleh Central Council for Education (chuuou shingi kyouiku kai) pada tahun 1997 memungkinkan sekolah berperan lebih banyak dalam pengembangan kurikulum di masa mendatang.
Beberapa hal berikut harus diperhatikan ketika sekolah menyusun kurikulumnya :
1.  Mengacu kepada standar kurikulum nasional
2. Mengutamakan keharmonisan pertumbuhan jasmani dan rohani siswa
3. Menyesuaikan dengan lingkungan sekitar
4. Memperhatikan step perkembangan siswa
5. Memperhatikan karakteristik course pendidikan/jurusan pada level SMA
Secara garis besar penyusunan kurikulum sekolah adalah sebagai berikut :
1. Menetapkan tujuan sekolah
2. Mempelajari standar kurikulum, dan korelasinya dengan tujuan sekolah
3. menyusun course wajib dan pilihan untuk SMP dan SMA
4. Mengalokasikan hari efektif sekolah dan jam belajar.
Bercermin pada Sistem Pendidikan di Jepang (II)


KOMPAS.com - Perkembangan dalam sistem pendidikan Jepang modern, yang sebetulnya sudah dimulai semenjak akhir Perang Dunia II membawa berbagai dampak dalam kehidupan masyarakatnya. Seiring dengan pesatnya perkembangan ekonomi negara ini, memungkinkan hampir seratus persen warganya bisa mengenyam pendidikan dasar dan tercatat 90 persen dari orang muda Jepang berkesempatan melanjutkan pendidikan sampai ke jenjang pendidikan menengah atas.
Disinilah fenomena ujian masuk menjadi suatu mekanisme utama guna menyalurkan para siswa muda tersebut. Namun karena tidak semua siswa berhasil, baik itu berhasil menjadi siswa dari sekolah yang mereka impikan atau bahkan berhasil untuk lulus ujian masuk sekalipun, maka “Yutori Kyoiku” mulai dicetuskan terlebih guna membuat para siswa lebih rileks menjalani proses pembelajaran yang selama ini mereka alami.
Kemudian kurikulum 2002 disahkan menjadi kurikulum nasional yang telah direvisi dari kurikulum sebelumnya serta disesuaikan dengan semangat “Yutori Kyoiku”. Muatan pada kurikulum itu sendiri dikurangi hingga 30 persen. Ini berpengaruh pada jumlah jam tatap muka guru dan siswa, termasuk untuk bidang studi matematika dan IPA dari 175 jam di tahun 1977 menjadi 150 jam di tahun 1998. Kebijakan ini selanjutnya mempengaruhi juga hari efektif sekolah yang berkurang dari 6 hari menjadi 5 hari.
“Yutori Kyouiku” juga memberi kesempatan bagi siswa kelas 3 sekolah dasar sampai dengan kelas 12 sekolah lanjutan untuk mengalami proses belajar di luar kelas, melalui program yang dikenal sebagai program terpadu (sogotekina gakushu). Tujuan utama program ini memberi kesempatan para siswa untuk belajar mandiri serta berpikir kritis.
Nilai hasil belajar tinggi yang mereka peroleh di kelas akan menjadi mubazir apabila mereka tidak bisa menterjemahkannya dalam lingkungan sosial mereka sehari-hari. Oleh sebab itu, atas kerjasama dengan pemerintah, sekolah dan dengan berbagai perusahan serta lembaga setempat, anak-anak sekolah dalam waktu-waktu tertentu dilibatkan dalam proses produksi suatu usaha atau layanan jasa. Melalui keterlibatan tersebut, siswa diminta untuk melakukan observasi dan terbuka dengan berbagai pertanyaan kritis. Hasil penelitian itu selanjutnya akan mereka catat dan presentasikan sebagai kesimpulan dari proses belajar.
Poin yang ingin digarisbawahi melalui program ini, bahwa proses belajar tidak hanya terbatas dalam lingkup sekolah saja. Memang sekolah diakui sebagai tempat pertama pengembangan aspek kognitif siswa, namun lingkungan di luar sekolah pun sama pentingnya, terutama sebagai ajang pembelajaran dan pengembangan aspek psikomotorik serta afektif mereka. Kesinambungan antar semua proses belajar ini akan membawa para siswa untuk memiliki “kemampuan baru” dan hal ini oleh kementrian pendidikan dijadikan batu pijakan reformasinya menuju suatu visi pendidikan ke depan.
Prinsip ini berusaha menjawab permasalahan yang dikritik sebelumnya tentang superioritas sekolah yang terlalu besar serta kaku. Sebelumnya pendekatan tradisional sekolah inilah yang disinyalir membuat para siswa pasif dengan lebih menekankan kemampuan siswa untuk mengingat fakta daripada membimbing mereka untuk berpikir serta berkreasi.
Apakah reformasi pendidikan di negeri asal Mushashi ini bisa berlangsung dengan lancar? Seperti telah disinggung sebelumnya, bahwa berbagai perdebatan sengit muncul seiring dengan diterapkannya kebijakan baru ini. Beberapa pihak mengkritik hasil ujian Matematika dan Ilmu Alam menurun sejak dibuatnya program yang membuat siswa lebih rileks dalam menjalani proses pendidikannya dan ini dinilai sebagai suatu kemunduran. Namun MEXT sendiri menanggapi bahwa fenomena hasil itu bukanlah suatu kemunduran tapi refleksi terhadap suatu proses.
Lebih lanjut beberapa ahli yang mendukung ide pendidikan liberal, berpendapat bahwa perdebatan terhadap krisis pendidikan adalah suatu reaksi kegelisahan sementara, yang secara kebetulan disulut oleh munculnya berbagai kesulitan dan stagnasi ekonomi global saat ini. Selain itu munculnya rasa kurang percaya diri mereka pada sistem politik national dan kekawatiran terhadap moral anak muda Jepang juga menjadi tren berbagai masalah sosial belakangan ini. Oleh karena itu, sekolah sangat diharapkan mampu mengembangkan pola berpikir kritis ini, yang dalam prakteknya tidak dipisahkan dari proses belajar secara keseluruhan itu sendiri.
Para pengajar dan orang tua pun mengalami dampak langsung dari aplikasi “Yutori Kyoiku” ini. Banyak staf pengajar juga awalnya cukup kelimpungan dengan sistem baru ini. Selain karena sistem ini seakan memutarbalikkan haluan yang selama ini sudah mereka telusuri secara nyaman, tuntutan pengembangan pola berpikir kritis menjadi tugas baru yang besar, di luar tugas utama mereka untuk tetap menjadikan para siswanya mahir dalam kemampuan pendidikan dasar.
Namun sebagian besar dari para pengajar ini mensyukuri kehadiran sistem baru ini beserta metode terpadunya karena mereka melihat para murid menjadi lebih termotivasi dengan apa yang ingin mereka tekuni. Lebih lanjut, para pengajar pun punya kesempatan lebih luas untuk mendalami konsep-konsep mengajar dengan adanya pengurangan waktu tatap muka tersebut.
Lalu bagaimana dengan pandangan orang tua? Dari hasil jajak pendapat yang dilakukan MEXT pada tahun 2003, diketahui bahwa hanya sebagian dari orang tua yang menyadari keberadaan sistem yang baru ini, namun kebanyakan dari mereka belum mengenal baik spesifikasi pada reformasi sistem ini. Mungkin hanya sekitar 20 persen dari mereka yang sudah mencermati dan mengerti sampai pada tujuan diterapkannya sistem ini. Akan tetapi bagi para orang tua yang memiliki tingkat mobilitas tinggi, keberadaan sistem ini akan membuat mereka lebih nyaman untuk membawa serta anak-anak ke tempat mereka bertugas, karena tuntuntan sekolah setempat tidak lagi seketat dan sekaku sebelumnya. 
Akhir kata, sistem pendidikan Jepang modern yang dimulai setelah perang dunia II ini memang dirancang untuk sebuah negara dengan perkembangan modernisme yang tinggi. Selama ini sistem pendidikan di Jepang dianggap sukses dan efesien dalam mengajarkan para siswanya dan menjadikan mereka berprestasi, namun semua itu ternyata belum cukup. MEXT dan para ahli pendidikan jaman ini menegaskan apabila pendidikan hanya ditekankan guna menyiapkan siswanya untuk duduk pada ujian masuk, ditambah dengan beban sejumlah besar muatan kurikulumnya akan menumpulkan minat belajar mereka. Untuk menjawab tantangan ini, berbagai upaya guna penerapan pola berpikir kritis, aplikasi pengetahuan pada kehidupan nyata serta metode “hands-on learning” menjadi tren yang baru di negeri ini.
Di balik semua itu apa hikmah yang bisa kita ambil buat sistem pendidikan di negara kita? Memang sistem pendidikan di negara kita mungkin tidak sekaku apa yang terjadi di Jepang, tapi bagaimana dengan konsistensi, efisiensi dan efektifitas dari proses itu sendiri? Ini tidak hanya menjadi pekerjaan rumah bagi para penulis kebijakan, tapi juga semua aspek termasuk guru dan orang tua siswa. Walau lain lubuk memang lain belalangnya, namun semoga informasi ini bisa menggugah semua pihak yang berkecimpung atau tertarik dengan sistem pendidikan nasional Indonesia.